Saturday, 27 Nov 2021
  • Membangun Pribadi Shaleh & Cerdas

Rintihan Hamba

Malam itu aku terbangun, hening dan dingin udara sepertiga malam kala itu tidak membuatku enggan untuk beranjak dari empuknya kasur lantai yang sudah mulai menipis dan hangatnya selimut yang tak lagi setebal dulu, seperti biasa dan seperti malam-malam yang sudah-sudah, aku nyalakan lampu belajar berwarna kuning yang pendarnya tak terlalu terang, aku ambil selembar kertas yang terselip di antara halaman-halaman kitab yang sedang ku baca, kuambil kertas itu ku baca dengan seksama, selembar kertas itu adalah sebuah surat yang ditulis oleh keluargaku, Abangku, kakak-kakakku dan juga Ibuku, lembaran yang mereka selipkan tanpa sepengetahuanku di dalam tas koperku ketika aku hendak berangkat untuk menuntut Ilmu di negeri nun jauh di sana, selembar kertas yang mulai usang dan lusuh karena terlalu sering aku baca.

di bawah cahaya redup lampu belajarku, ku baca tulisan-tulisan tangan yang termaktub dalam kertas tersebut,  itu adalah kata-kata sakti bagiku, kata-kata yang bisa membuatku menahan udara yang menusuk di musim dingin, kata-kata yang mampu membuatku tetap mantap melangkah di tengah teriknya matahari di musim panas, kata-kata yang memecutku untuk segera bangkit ketika kalah bergelut dengan rasa malas, kata-kata yang membuatku betah duduk berjam-jam di tengah tumpukan kitab-kitab, kata-kata yang membatasi jam tidurku, kata-kata yang jika dibaca mampu menghilangkan rasa rindu namun jika selesai membacanya membuat rindu itu semakin menggebu.

Setelah selesai kubaca tulisan pada selembar kertas tersebut, aku segera bangkit dari dudukku, ku intip langit malam dari jendela kamarku, indah berbintang.

“Meskipun kita jauh kita tetap bisa menatap langit yang sama”

Terngiang sebuah ucapan perpisahan dari seorang kawan.

Kupalingkan wajah dari jendela, melanjutkan langkah menuju sumber air untuk berwudhu, kubasuh wajah untuk menyapu kantuk yang begitu genit menggoda, “bismillah” kumulai berwudhu. dingin air yang perlahan menjelma menjadi kesejukan menambah ketenangan di tengah kesunyian, tapi hatiku masih ramai bersuara, pikiranku masih berisik berkata-kata, kupaksa untuk tenang, hati dan pikiranku tak juga mau diam, sampailah aku pada basuhan terakhir di kakiku, aku tutup dengan doa lalu beranjak.

Di kamar yang setengah gelap karena hanya ada sinar lampu belajar lima watt yang seakan tak lama lagi akan redup, ku gelar sajadah berwarna hijau tua yang setia menemaniku, bergambar kubah masjid tepat mengarah ke arah kiblat, aku bersiap untuk sholat, tak banyak rokaat malam itu, dua, hanya dua rokaat, selesai salam aku diam sejenak berusaha untuk berdamai dengan hati dan pikiranku yang masih juga tak mau diam.

Mendengar suara hati dan pikiranku yang semakin tak terkendali aku terbawa suasana, menjadikanku ingin merangkai aksara, membuatku ingin menyusun kata-kata, menggodaku untuk mau bercerita, kepada Sang Pencipta, namun lisan terasa kaku terasa kelu, tanganku seperti bergerak dengan sendirinya terangkat menengadah, meminta.

Aku berusaha menahan, sekuat tenaga, tidak bisa, sekali lagi, tidak mampu, ah… akhirnya mengalir juga air mata tanpa izinku, membuat sungai kecil dipipiku, terus mengalir hingga menetes tak henti membasahi telapak tanganku, ternyata mata memang lebih peka dari pada lisan.

“Bagaimana caraku untuk bersyukur kepada-Mu ya Robb, aku meminta setitik lalu Engkau berikan padaku segunung, jangan Engkau murkaiku ya Robb jika aku lalai dari segala nikmat yang Engkau berikan, ingatkan aku dengan kasih sayang-Mu ya Robb…!” lisanku mulai berucap.

Waktu terasa seakan berhenti, semua tak bergerak kecuali air mata yang tak habis-habisnya berderai, jatuh membasahi telapak tanganku membasahi kain sarung dan sajadahku, angin pun seakan tak bergerak.

“Aku meminta kepada-Mu untuk membawaku jauh dari perih dan kelamnya bayangan masa lalu, namun Engkau bawa jasadku jauh untuk istirahat sejenak dari segala hal yang mungkin bisa mengekangku dengan masa lalu”

“Beginikah cara-Mu ya Robb, Beginikah skenario-Mu ya Robb, beginikah rencana-Mu ya Robb, tak kusangka dan tak kusadari, ini sangatlah indah”

“Tak pantas jika aku tidak bersyukur, tak pantas jika aku terus megeluh, tak pantas jika aku terus gelisah, basahi lisanku dengan syukur kepada-Mu ya Robb, gerakan tubuhku untuk membuktikan rasa syukur itu ya Robb…. Ya Robb… Ya Robb…”

Kubasuh wajahku yang basah karena air mata dengan tangan yang juga terbasahi air mata, lalu air mataku berhenti mengalir, lisan berhenti berucap, setelahnya, hanya senyum kecil yang menghiasi wajahku dan terlintas sebuah ucapan singkat di dalam hati

“Aku ingin terus berusaha mengenal-Mu ya Robb…”

Luthfi Fajri, Lc

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR