Friday, 20 Feb 2026
  • Membangun Pribadi Shaleh & Cerdas
  • Membangun Pribadi Shaleh & Cerdas

Bukan Sekadar Mengajar: Seni Mengasihi Murid SMA dengan Hati

Share

Facebook
WhatsApp
Telegram
Threads

Menghadapi siswa jenjang SMA adalah sebuah tantangan unik. Di usia ini, mereka bukan lagi anak kecil yang bisa didikte, namun belum sepenuhnya dewasa untuk dilepas begitu saja. Di lorong-lorong SMAIT Thariq Bin Ziyad, kita melihat wajah-wajah masa depan itu setiap hari. Mereka datang dengan semangat, kegelisahan, mimpi, dan pencarian jati diri.

Pertanyaannya bagi kita para pendidik adalah: Sudahkah kita sekadar mengajar, atau kita benar-benar mengasihi mereka?

Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu (ta’lim), melainkan proses pembinaan (tarbiyah) yang berlandaskan kasih sayang (mahabbah). Berikut adalah kiat dan refleksi bagaimana menghadirkan rasa kasih dalam mendidik murid SMA, merangkum cerita dari para guru dan pendekatan parenting Islami.


1. Guru adalah “Orang Tua Kedua”: Mengadopsi Konsep Wazir

Dalam konsep parenting Islam yang merujuk pada atsar Ali bin Abi Thalib r.a., usia 14-21 tahun (usia SMA) adalah fase di mana anak harus diperlakukan sebagai mitra atau sahabat (wazir).

Di SMAIT Thariq Bin Ziyad, di mana kita mengedepankan adab dan ilmu, guru tidak bisa lagi menempatkan diri sebagai “penguasa kelas” yang otoriter. Mengasihi murid SMA berarti bersedia menurunkan ego untuk mendengar pendapat mereka.

“Anak-anak SMA butuh didengar sebelum dinasihati. Saat kita memposisikan diri sebagai sahabat yang peduli—bukan sekadar pengawas yang mencari kesalahan—di situlah pintu hati mereka terbuka.”

Tips Praktis:

  • Luangkan waktu 5 menit di awal atau akhir pelajaran untuk obrolan santai di luar materi akademik.
  • Gunakan kalimat, “Menurut pendapatmu bagaimana?” alih-alih “Kamu harus begini.”

2. Pandanglah Mereka dengan Ainur Rahmah (Pandangan Kasih Sayang)

Seorang guru yang mengasihi tidak akan mudah memberi label negatif pada siswa yang “bermasalah”. Dalam pandangan Islam, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Jika ada perilaku yang menyimpang, itu adalah sinyal bahwa mereka sedang butuh pertolongan, bukan penghakiman.

Seringkali, di balik siswa yang tidur di kelas atau yang terlihat memberontak, ada jiwa yang lelah atau masalah rumah tangga yang berat. Mengasihi berarti menatap mereka dengan Ainur Rahmah—pandangan penuh kasih sayang bahwa mereka adalah amanah Allah yang harus kita selamatkan.

Refleksi Guru: Saat kita marah karena tugas tidak dikerjakan, cobalah tarik napas dan bertanya dalam hati: “Apa yang sedang dialami anak ini sehingga ia kesulitan?” Perubahan mindset ini akan mengubah nada bicara kita dari memarahi menjadi merangkul.

3. Kekuatan Doa: Jalur Langit Para Pendidik

Tidak ada kiat yang lebih ampuh dalam mengasihi murid selain mendoakan mereka. Imam Al-Ghazali pernah menyebutkan bahwa salah satu tanda guru yang ikhlas adalah ia yang tidak putus mendoakan murid-muridnya.

Di SMAIT Thariq Bin Ziyad, kita memahami bahwa hidayah itu milik Allah. Kita bisa mengajar matematika, sains, atau bahasa seharian penuh, tapi yang melembutkan hati mereka untuk menerima ilmu dan berakhlak mulia adalah Allah.

Kiat Mengasihi:

  • Sebut nama murid-murid Anda, terutama yang paling “menguji kesabaran”, di sepertiga malam atau di waktu-waktu mustajab.
  • Niatkan mengajar sebagai ibadah, agar lelahnya menjadi lillah.

4. Sinergi Parenting: Menjadi Perpanjangan Tangan Orang Tua

Mengasihi murid berarti memahami bahwa kita sedang melanjutkan perjuangan orang tua mereka di rumah. Dalam Islam, tanggung jawab utama pendidikan ada pada orang tua, dan sekolah adalah mitra.

Komunikasi yang baik dengan wali murid adalah bentuk kasih sayang kita kepada siswa. Jangan hanya menghubungi orang tua saat ada masalah (pelanggaran). Hubungilah mereka untuk menyampaikan kabar baik, sekecil apapun perkembangan anak mereka.

“Mendidik remaja SMA adalah tentang memenangkan hatinya. Jika hatinya sudah kita menangkan, akalnya akan mudah kita bimbing.”

Penutup: Mencetak Generasi Rabbani

Mengajar di SMAIT Thariq Bin Ziyad adalah sebuah privilese untuk mencetak generasi Rabbani—cerdas secara intelektual dan anggun secara moral. Mari kita perbarui niat kita. Bahwa setiap teguran adalah bentuk kepedulian, setiap senyuman adalah sedekah, dan setiap ilmu yang diajarkan adalah bekal kasih sayang untuk masa depan mereka dunia dan akhirat.

Mari mengajar dengan hati, karena apa yang keluar dari hati, akan sampai ke hati.

Leave a Comment

 

Lokasi

School Info

SMAIT Thariq Bin Ziyad

NPSN 20257102
JL. Toyogiri Selatan, Kel Jatimulya, Kec Tambun Selatan
PHONE 622182432633
EMAIL info@smaitthariq.sch.id
WHATSAPP 622182432633